Traveling Is Just Like Live a Life – Pulau Putri Trip (31 Desember 2016 – 01 Januari 2017)

Landscape Sunset di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.00 WIB
Saya menghabiskan malam tahun baru 2016 di Pulau Putri, Batam. Traveling saya yang kali ini, sangat berkesan bagi saya. Bukan terkesan karena perjalanan yang menyenangkan, tetapi terkesan karena saya mendapat suatu pelajaran baru tentang traveling. Traveling itu sama seperti berkehidupan. Kenapa saya beranggapan begitu? Simak tulisan saya kali ini. 😊😊😊

Saya ke Pulau Putri dengan menggunakan trip dari My Trip Indonesia. Pulau Putri adalah sebuah pulau kecil di Kecamatan Nongsa yang katanya memiliki pantai dan laut yang bagus. Dari Batam ke Pulau Putri bisa kita tempuh dalam waktu 15 menit saja dengan menggunakan sampan mesin atau lebih dikenal dengan sebutan Pompong. Kenapa ke Pulau Putri saja harus pakai jasa tour? Begitulah kira-kira pemikiran yang akan muncul. Ya, karena trip kali ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi saya berkemah di sini.

Landscape dari Bibir Pantai Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB

Ketika saya memutuskan untuk ikut dalam trip seharga Rp 350.000 ini, dalam hati saya sudah bertanya-tanya. Sanggupkah saya tidur di dalam kemah? Bisa tidurkah saya? Nanti saya bakalan mandi di mana ya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkecamuk dalam hati dan pikir. Tapi, 1 hal yang memantapkan hati saya adalah tujuan saya dalam trip saya ini.

Selain traveling, saya juga sedang menekuni hobby saya yang lain, yaitu fotografi. Bagi saya, gambar yang bagus belum tentu datang dari perkotaan atau kemewahan. Gambar yang bagus bisa saja malah datang dalam kesederhanaan atau dari daerah terpencil. Inilah tujuan utama saya, Hunting Foto!

Ketika orang lain menikmati kembang api di Singapore atau menikmatinya dari balkon vila atau malah bermain kembang api di halaman rumah, saya lebih memilih untuk tidur di dalam kemah dengan matras tipis dan tanpa AC, sendirian pula! Kenapa? Inilah tujuan saya yang kedua, yaitu saya mau membiasakan diri untuk traveling secara sederhana, karena traveling belum tentu tidur di hotel ber-AC terus atau mandi di kamar mandi yang layak terus, bisa saja hal lain terjadi.

Tenda di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB

Jam 15.00 WIB, saya dan rombongan dari My Trip Indonesia, berangkat dari meeting point kami di Kepri Mall, Batam menuju pantai Nongsa. Perjalanan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Sesampainya di pantai Nongsa, kami langsung naik Pompong menuju Pulau Putri. Sampai di Pulau Putri, saya meletakkan barang di tenda dan kemudian berkeliling pulau untuk memulai hunting foto. Trip saya kali ini pada dasarnya adalah bebas dan tidak terikat pada kegiatan-kegiatan tertentu.

Saya mengelilingi Pulau Putri selama kurang lebih 30 menit saja sambil menikmati semilir angin laut. Ini dia penampakan hasil foto saya.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Pepohonan kering di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Setelah berkeliling pulau menikmati semilir angin sore sambil hunting foto, saya kembali ke tenda untuk berbaring, beristirahat sejenak setelah beraktivitas dari pagi hingga sore, sekalian juga merasakan bagaimana rasanya tidur di atas tilam yang amat tipis. Mencoba beberapa posisi tidur supaya saat malam tiba, saya bisa mendapatkan suatu posisi pas yang nyaman untuk memulihkan tenaga.

Iseng saat di dalam tenda, Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.30 WIB

Setelah beristirahat sekitar 30-45 menit, saya keluar tenda lagi, saat itu sudah jam 17.00 WIB. Beberapa saat setelah saya keluar, langit sore begitu cantiknya menyongsong terbenamnya matahari untuk terakhir kalinya pada tahun 2016. Melihat pemandangan yang demikian indahnya, kembali menyadarkan saya begitu besar anugerah dan karunia dari Tuhan bagi kita.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB
Sunset di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB
Sesudah mengabadikan karunia Tuhan yang amat indah itu, saya kemudian bersiap untuk mandi sore. Ketika saya berjalan menuju kamar mandi, kaki saya tersandung batu hingga berdarah. Kondisi waktu itu amat gelap sehingga saya benar-benar tidak kelihatan. Sesampainya di kamar mandi, saya cukup tertegun dengan kondisi kamar mandi yang bagi saya berbeda sekali dengan kamar mandi pada umumnya, meskipun bagi saya kondisinya masih bisa diterima sebagai “kamar mandi”.

Saya mandi saat itu dalam kondisi gelap sehingga saya mengandalkan senter hp saya sebagai penerangan. Kamar mandi di sana hanyalah berupa bilik dengan ember untuk penampungan air, tanpa keran. Sial bagi saya, ketika itu air tidak terlalu banyak karena belum diisi lagi sehingga saya harus mandi dengan air seadanya. Seperti yang sudah saya prediksi, ada hal-hal akan terjadi yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tetapi, disitulah kemudian tujuan saya tercapai, yaitu membiasakan diri untuk tidak selalu hidup “enak”.

Parasit di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.30 WIB

Setelah mandi, kemudian saya makan. Makanan sudah disediakan oleh pihak My Trip Indonesia. Menu hari itu adalah Ikan Gulai dan Sayur Capcai. Saya buknalah tipe orang pencinta ikan, apalagi ikan kecil yang sudah tentu banyak tulangnya, juga bukanlah orang yang suka dengan sayur. Tetapi, apabila saya menuruti apa mau saya, bukanlah hal yang benar jika saya tidak makan hanya karena saya tidak suka. Ini bukanlah tentang suka atau tidak, tetapi tentang bagaimana mengakhiri perjalanan dalam kondisi yang sama saat memulainya.

Lagi-lagi di sini saya belajar bahwa sesuatu yang tidak harapkan bisa saja terjadi, tetapi demi bertahan hidup saya tetap saja harus menjalaninya. Memang kelihatan berlebihan, tetapi sesuatu yang besar haruslah dimulai dari yang kecil dulu. Mungkin suatu saat nanti, saya bukan harus makan sesuatu yang tidak saya suka, tetapi lebih dari itu, sesuatu yang belum pernah saya makan sebelumnya, sesuatu yang harus dimakan mentah-mentah, atau sesuatu yang harus dimakan langsung dari hasil bumi, karena kehabisan persediaan makanan. Semua mungkin saja terjadi, saya harus siap dengan segala kemungkinan dan itulah pentingnya membiasakan diri sejak dini.

Kaki saya sendiri di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB

Setelah itu, saya duduk di luar sambil mengobrol dengan panitia dari My Trip Indonesia. Setelah itu, kami menerbangkan lampion layaknya kebanyakan orang saat merayakan tahun baru. Saya sendiri tidak menerbangkan, tetapi hanya mengabadikan gambar saja.

Menerbangkan Lampion di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 20.00 WIB

Usai menerbangkan lampion, kami melanjutkan kegiatan kami dengan BBQ. Dari pihak My Trip Indonesia menyediakan peralatan BBQ dan sosis sebagai bahan makanan. Namun, beberapa orang yang ikut rombongan tour, sempat memancing malam itu dan mendapatkan ikan. Ikan yang mereka tangkap juga ikut dipanggang, namun saya tidak ikut makan.

Persiapan BBQ oleh panitia, 31 Desember 2016, 21.30 WIB

Setelah memanggang dan makan beberapa sosis, saya kembali ke tenda untuk beristirahat sejenak sambil menunggu jam 00.00 WIB untuk kemudian mengabadikan gambar kembang api yang bisa diambil dari 3 sudut, yaitu 2 titik kembang api dari Nagoya dan Batam Center di Batam, serta 1 titik kembang api dari Singapore.

Karena waktu yang masih panjang dan kondisi badan saya yang sudah cukup lelah, akhirnya saya ketiduran. Saya terbangun kembali ketika waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 WIB. Seketika itu pula saya keluar dan mengabadikan beberapa gambar kembang api saja. Mengambil gambar kembang api memang sedikit sulit ditambah lensa kamera saya yang tidak memungkinkan untuk mengambil gambar yang jauh sehingga hasil gambarnya juga tidak terlalu membuat saya puas. Setelah selesai mengabadikan gambar kembang api, saya kembali ke tenda dan tidur.

Kembang api dari Singapore, 01 Januari 2017, 00.10 WIB
Kembang api dari Batam Center, Batam, 01 Januari 2017, 00.10 WIB

Keesokan harinya, saya bangun sekitar jam 07.30 WIB. Awalnya, saya ingin bangun lebih pagi untuk menyaksikan terbitnya matahari. Namun, karena terlambat, saya hanya menikmati matahari yang sudah terbit saja. Namun demikian, saya tetap dapat mengabadikan gambar yang bisa memuaskan diri saya. Kemudian, kami sarapan nasi lemak dan melanjutkan kegiatan kami dengan snorkeling.

Laut di sekitar Pulau Putri cukup jernih, tetapi warna lautnya adalah hijau, bukan berwarna biru. Memang tidak sesuai dengan ekspektasi saya sebelumnya, namun tidak apa-apa , untuk pengalaman pertama untuk snorkeling. Lagi pula, prinsip saya sederhana, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya juga, terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tetapi, kemudian kita jadi mengetahui apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 01 Januari 2017, 01 Januari 2017, 08.00 WIB
Landscape di Pulau Putri, Batam, 01 Januari 2017, 07.30 WIB

Usai snorkeling sekitar kurang lebih 1 jam, saya mandi dan kemudian berkemas-kemas untuk kemudian akan kembali ke Batam. Sekitar jam 12.00 WIB, kami kembali ke Batam. Saat itu, gelombang air cukup mengerikan, namun pengemudi pompong yang membawa kami memang sudah terlatih menghadapi gelombang air yang demikian sehingga akhirnya kami sampai di Batam dengan selamat. Sesampainya di pantai Nongsa, Batam, kami makan siang dulu dengan menu Ayam Sambal dan Sup. Setelah itu, kami diantar ke Kepri Mall dan kemudian kembali ke kediaman kami masing-masing.

Ulasan singkat mengenai trip saya kali ini. Saya menilai dengan harga Rp 350.000, berangkat dengan pompong, tidur di tenda, makanan yang terlalu sederhana, kamar mandi kurang layak, dan BBQ sosis, rasanya terlalu mahal. Mungkin dengan harga Rp 250.000 saja sudah lebih dari cukup. Tetapi, pelayanan dari My Trip Indonesia selalu memuaskan. Penilaian pribadi saya adalah 7/10.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Canon EOS M3.