Traveling Is Just Like Live a Life – Pulau Putri Trip (31 Desember 2016 – 01 Januari 2017)

Landscape Sunset di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.00 WIB
Saya menghabiskan malam tahun baru 2016 di Pulau Putri, Batam. Traveling saya yang kali ini, sangat berkesan bagi saya. Bukan terkesan karena perjalanan yang menyenangkan, tetapi terkesan karena saya mendapat suatu pelajaran baru tentang traveling. Traveling itu sama seperti berkehidupan. Kenapa saya beranggapan begitu? Simak tulisan saya kali ini. 😊😊😊

Saya ke Pulau Putri dengan menggunakan trip dari My Trip Indonesia. Pulau Putri adalah sebuah pulau kecil di Kecamatan Nongsa yang katanya memiliki pantai dan laut yang bagus. Dari Batam ke Pulau Putri bisa kita tempuh dalam waktu 15 menit saja dengan menggunakan sampan mesin atau lebih dikenal dengan sebutan Pompong. Kenapa ke Pulau Putri saja harus pakai jasa tour? Begitulah kira-kira pemikiran yang akan muncul. Ya, karena trip kali ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi saya berkemah di sini.

Landscape dari Bibir Pantai Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB

Ketika saya memutuskan untuk ikut dalam trip seharga Rp 350.000 ini, dalam hati saya sudah bertanya-tanya. Sanggupkah saya tidur di dalam kemah? Bisa tidurkah saya? Nanti saya bakalan mandi di mana ya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkecamuk dalam hati dan pikir. Tapi, 1 hal yang memantapkan hati saya adalah tujuan saya dalam trip saya ini.

Selain traveling, saya juga sedang menekuni hobby saya yang lain, yaitu fotografi. Bagi saya, gambar yang bagus belum tentu datang dari perkotaan atau kemewahan. Gambar yang bagus bisa saja malah datang dalam kesederhanaan atau dari daerah terpencil. Inilah tujuan utama saya, Hunting Foto!

Ketika orang lain menikmati kembang api di Singapore atau menikmatinya dari balkon vila atau malah bermain kembang api di halaman rumah, saya lebih memilih untuk tidur di dalam kemah dengan matras tipis dan tanpa AC, sendirian pula! Kenapa? Inilah tujuan saya yang kedua, yaitu saya mau membiasakan diri untuk traveling secara sederhana, karena traveling belum tentu tidur di hotel ber-AC terus atau mandi di kamar mandi yang layak terus, bisa saja hal lain terjadi.

Tenda di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB

Jam 15.00 WIB, saya dan rombongan dari My Trip Indonesia, berangkat dari meeting point kami di Kepri Mall, Batam menuju pantai Nongsa. Perjalanan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Sesampainya di pantai Nongsa, kami langsung naik Pompong menuju Pulau Putri. Sampai di Pulau Putri, saya meletakkan barang di tenda dan kemudian berkeliling pulau untuk memulai hunting foto. Trip saya kali ini pada dasarnya adalah bebas dan tidak terikat pada kegiatan-kegiatan tertentu.

Saya mengelilingi Pulau Putri selama kurang lebih 30 menit saja sambil menikmati semilir angin laut. Ini dia penampakan hasil foto saya.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Pepohonan kering di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.00 WIB
Setelah berkeliling pulau menikmati semilir angin sore sambil hunting foto, saya kembali ke tenda untuk berbaring, beristirahat sejenak setelah beraktivitas dari pagi hingga sore, sekalian juga merasakan bagaimana rasanya tidur di atas tilam yang amat tipis. Mencoba beberapa posisi tidur supaya saat malam tiba, saya bisa mendapatkan suatu posisi pas yang nyaman untuk memulihkan tenaga.

Iseng saat di dalam tenda, Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.30 WIB

Setelah beristirahat sekitar 30-45 menit, saya keluar tenda lagi, saat itu sudah jam 17.00 WIB. Beberapa saat setelah saya keluar, langit sore begitu cantiknya menyongsong terbenamnya matahari untuk terakhir kalinya pada tahun 2016. Melihat pemandangan yang demikian indahnya, kembali menyadarkan saya begitu besar anugerah dan karunia dari Tuhan bagi kita.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB
Sunset di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB
Sesudah mengabadikan karunia Tuhan yang amat indah itu, saya kemudian bersiap untuk mandi sore. Ketika saya berjalan menuju kamar mandi, kaki saya tersandung batu hingga berdarah. Kondisi waktu itu amat gelap sehingga saya benar-benar tidak kelihatan. Sesampainya di kamar mandi, saya cukup tertegun dengan kondisi kamar mandi yang bagi saya berbeda sekali dengan kamar mandi pada umumnya, meskipun bagi saya kondisinya masih bisa diterima sebagai “kamar mandi”.

Saya mandi saat itu dalam kondisi gelap sehingga saya mengandalkan senter hp saya sebagai penerangan. Kamar mandi di sana hanyalah berupa bilik dengan ember untuk penampungan air, tanpa keran. Sial bagi saya, ketika itu air tidak terlalu banyak karena belum diisi lagi sehingga saya harus mandi dengan air seadanya. Seperti yang sudah saya prediksi, ada hal-hal akan terjadi yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tetapi, disitulah kemudian tujuan saya tercapai, yaitu membiasakan diri untuk tidak selalu hidup “enak”.

Parasit di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 16.30 WIB

Setelah mandi, kemudian saya makan. Makanan sudah disediakan oleh pihak My Trip Indonesia. Menu hari itu adalah Ikan Gulai dan Sayur Capcai. Saya buknalah tipe orang pencinta ikan, apalagi ikan kecil yang sudah tentu banyak tulangnya, juga bukanlah orang yang suka dengan sayur. Tetapi, apabila saya menuruti apa mau saya, bukanlah hal yang benar jika saya tidak makan hanya karena saya tidak suka. Ini bukanlah tentang suka atau tidak, tetapi tentang bagaimana mengakhiri perjalanan dalam kondisi yang sama saat memulainya.

Lagi-lagi di sini saya belajar bahwa sesuatu yang tidak harapkan bisa saja terjadi, tetapi demi bertahan hidup saya tetap saja harus menjalaninya. Memang kelihatan berlebihan, tetapi sesuatu yang besar haruslah dimulai dari yang kecil dulu. Mungkin suatu saat nanti, saya bukan harus makan sesuatu yang tidak saya suka, tetapi lebih dari itu, sesuatu yang belum pernah saya makan sebelumnya, sesuatu yang harus dimakan mentah-mentah, atau sesuatu yang harus dimakan langsung dari hasil bumi, karena kehabisan persediaan makanan. Semua mungkin saja terjadi, saya harus siap dengan segala kemungkinan dan itulah pentingnya membiasakan diri sejak dini.

Kaki saya sendiri di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 17.30 WIB

Setelah itu, saya duduk di luar sambil mengobrol dengan panitia dari My Trip Indonesia. Setelah itu, kami menerbangkan lampion layaknya kebanyakan orang saat merayakan tahun baru. Saya sendiri tidak menerbangkan, tetapi hanya mengabadikan gambar saja.

Menerbangkan Lampion di Pulau Putri, Batam, 31 Desember 2016, 20.00 WIB

Usai menerbangkan lampion, kami melanjutkan kegiatan kami dengan BBQ. Dari pihak My Trip Indonesia menyediakan peralatan BBQ dan sosis sebagai bahan makanan. Namun, beberapa orang yang ikut rombongan tour, sempat memancing malam itu dan mendapatkan ikan. Ikan yang mereka tangkap juga ikut dipanggang, namun saya tidak ikut makan.

Persiapan BBQ oleh panitia, 31 Desember 2016, 21.30 WIB

Setelah memanggang dan makan beberapa sosis, saya kembali ke tenda untuk beristirahat sejenak sambil menunggu jam 00.00 WIB untuk kemudian mengabadikan gambar kembang api yang bisa diambil dari 3 sudut, yaitu 2 titik kembang api dari Nagoya dan Batam Center di Batam, serta 1 titik kembang api dari Singapore.

Karena waktu yang masih panjang dan kondisi badan saya yang sudah cukup lelah, akhirnya saya ketiduran. Saya terbangun kembali ketika waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 WIB. Seketika itu pula saya keluar dan mengabadikan beberapa gambar kembang api saja. Mengambil gambar kembang api memang sedikit sulit ditambah lensa kamera saya yang tidak memungkinkan untuk mengambil gambar yang jauh sehingga hasil gambarnya juga tidak terlalu membuat saya puas. Setelah selesai mengabadikan gambar kembang api, saya kembali ke tenda dan tidur.

Kembang api dari Singapore, 01 Januari 2017, 00.10 WIB
Kembang api dari Batam Center, Batam, 01 Januari 2017, 00.10 WIB

Keesokan harinya, saya bangun sekitar jam 07.30 WIB. Awalnya, saya ingin bangun lebih pagi untuk menyaksikan terbitnya matahari. Namun, karena terlambat, saya hanya menikmati matahari yang sudah terbit saja. Namun demikian, saya tetap dapat mengabadikan gambar yang bisa memuaskan diri saya. Kemudian, kami sarapan nasi lemak dan melanjutkan kegiatan kami dengan snorkeling.

Laut di sekitar Pulau Putri cukup jernih, tetapi warna lautnya adalah hijau, bukan berwarna biru. Memang tidak sesuai dengan ekspektasi saya sebelumnya, namun tidak apa-apa , untuk pengalaman pertama untuk snorkeling. Lagi pula, prinsip saya sederhana, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya juga, terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tetapi, kemudian kita jadi mengetahui apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Landscape di Pulau Putri, Batam, 01 Januari 2017, 01 Januari 2017, 08.00 WIB
Landscape di Pulau Putri, Batam, 01 Januari 2017, 07.30 WIB

Usai snorkeling sekitar kurang lebih 1 jam, saya mandi dan kemudian berkemas-kemas untuk kemudian akan kembali ke Batam. Sekitar jam 12.00 WIB, kami kembali ke Batam. Saat itu, gelombang air cukup mengerikan, namun pengemudi pompong yang membawa kami memang sudah terlatih menghadapi gelombang air yang demikian sehingga akhirnya kami sampai di Batam dengan selamat. Sesampainya di pantai Nongsa, Batam, kami makan siang dulu dengan menu Ayam Sambal dan Sup. Setelah itu, kami diantar ke Kepri Mall dan kemudian kembali ke kediaman kami masing-masing.

Ulasan singkat mengenai trip saya kali ini. Saya menilai dengan harga Rp 350.000, berangkat dengan pompong, tidur di tenda, makanan yang terlalu sederhana, kamar mandi kurang layak, dan BBQ sosis, rasanya terlalu mahal. Mungkin dengan harga Rp 250.000 saja sudah lebih dari cukup. Tetapi, pelayanan dari My Trip Indonesia selalu memuaskan. Penilaian pribadi saya adalah 7/10.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Canon EOS M3.

Lagoi: The Hidden Treasure in Kepri – Bintan Trip (25 Desember 2016)

Selfie di Gurun Pasir Bintan, 25 Desember 2016, 09.00 WIB
Minggu, 25 Desember 2016, saya kembali mencoba pengalaman baru sebagai Solo Traveler. Kali ini, saya memilih Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau sebagai tempat yang saya kunjungi. Saya berkunjung ke Bintan dengan menggunakan jasa My Trip Indonesia seharga Rp 260.000 untuk satu hari perjalanan.

Pagi-pagi jam 06.30 WIB saya sudah sampai di Pelabuhan barang ASDP Punggur, Batam. Setelah registrasi, saya naik kapal Roro yang akan membawa saya ke Bintan. Sepanjang perjalanan saya dari Batam ke Bintan yang ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam, saya hanya berdiri di atas kapal sambil mencari-cari tempat/spot bagus untuk hunting foto. Akhirnya saya dapat tempat yang bagus, yaitu di dekat toilet kapal, mungkin ini bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan apabila ingin traveling ke Bintan dengan menggunakan Kapal Roro.

Kapal ferry melintas di perairan kota Batam, 25 Desember 2016, 07.30 WIB
Landscape di perairan Kota Batam, 25 Desember 2016, 07.30 WIB

Sesampainya di Bintan, rombongan kami sudah ditunggu oleh tim dari My Trip Indonesia untuk akhirnya dibawa berkeliling Bintan. Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Gurun Pasir Bintan. Gurun Pasir Bintan pada dasarnya adalah sebuah tempat pertambangan bauksit yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Awalnya memang tempat ini tidak dikomersialkan, namun seiring perjalanan waktu, dimana banyak orang berkunjung, maka akhirnya ada orang-orang yang mencari peruntungan di sini.

Landscape Gurun Pasir Bintan, 25 Desember 2016, 09.00 WIB

Setelah sekitar 30 menit di Gurun Pasir Bintan, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan kami. Kali ini kami menuju kawasab wisata Lagoi di Bintan. Kawasan wisata Lagoi adalah sebuah kompleks wisata yang dikelola oleh swasta, dimana di dalam kompleks itu, kita akan menemukan sangat banyak sekali pantai dan hampir semua pantai di daerah itu masih sangat bersih. Kali ini, tentu saja saya tidak berkunjung ke semua pantai yang ada di sana. Saya hanya berkunjung ke salah satunya saja, pantai yang bernama Lagoi Bay.

Di sana saya tidak bermain air, tetapi hanya berfoto-foto saja. And you know what! Di sana ada taman bunga yang bisa saya manfaatkan untuk hunting foto. Berikut ini foto-foto landscape di Lagoi Bay, sedangkan untuk yang lebih lengkap, akan saya share pada kategori Photo Hunting.

Air mancur di Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Dedaunan dekat pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Landscape Pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Landscape Pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB

Setelah sekitar 30 menit di Lagoi Bay, kami melanjutkan perjalanan kami menuju sebuah pujasera yang masih berada dalam kompleks wisata Lagoi, tepatnya berseberangan dengan tempat wisata Treasure Bay. Di sana kami makan nasi campur, dengan lauk ayam kari, telur sambal, sayur, dan kerupuk. Makan di sini sudah disediakan untuk sepuasnya, namun tentu saja saya makan hanya sepiring saja. Dari segi rasa, makanannya enak dan sangat homie. Cocok dengan lidah saya. 😊😊😊

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Treasure Bay. Kami sampai di sana sekitar pukul 13.00 WIB. Pada saat kami sampai, cuaca sudah tidak bersahabat. Saat itu, cuaca gerimis dan berangsur-angsur agak melebat. Setelah sekitar 10 menit menunggu hujan reda, akhirnya saya bisa berjalan mengelilingi kolam renang air asin raksasa dan terbesar se-Asia Tenggara itu.

Treasure Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 13.30 WIB

Sialnya, setelah berjalan sekitar 15 menit, hujan kembali turun dengan begitu lebatnya. Saya tidak bisa kembali, karena hujan turun sangat lebat sehingga saya harus berteduh sejenak di bawah payung yang ada di sekeliling kolam renang. Setelah berteduh sekitar 15 menit, saya memutuskan untuk kembali ke lobby Treasure Bay karena hujan tidak juga mereda.

Sesampainya di area lobby, saya langsung mencari kamar ganti untuk berganti baju. Setelah itu, saya hanya berjalan dan duduk, menunggu hujan kembali reda. Menit demi menit berlalu, hujan tidak juga reda. Sekitar jam 15.00 WIB akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami dengan meninggalkan Treasure Bay, karena kami tidak dapat melakukan apa-apa di sana.

Treasure Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 13.30 WIB

Satu hal yang saya dapatkan dalam kunjungan saya ke Treasure Bay. Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya meyakini bahwa traveling bukan hanya melulu tentang menghamburkan uang, tetapi lebih dari itu, traveling adalah sarana untuk menambah wawasan. Hari ini, saya mendapat suatu pelajaran baru, ialah traveling tidak ubahnya seperti kehidupan kita. Dalam hal ini, terkadang hidup belum tentu selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi, apapun yang terjadi, life must go on, kita tetap harus menjalaninya, meskipun pahit dan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dari Lagoi Bay, kami melanjutkan perjalanan menuju Patung Penyu di dekat Lagoi. Satu hal yang amat disayangkan di sini, tidak berbeda jauh saat saya berkunjung ke Candi Borobudur. Patung Penyu ini merupakan sebuah tempat yang disakralkan oleh umat Buddha di sana. Sudah jelas tertulis, bahwa patung tersebut tidak boleh dipanjat, tetapi toh masih banyak saya lihat yang memanjat patung tersebut. Sebuah fenomena yang sangat disesalkan, terjadi dimana-mana. Rasa kepedulian dan toleransi memang harus lebih banyak ditanamkan dalam diri masyarakat di Indonesia.

Kepala Patung Penyu, Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB
Landscape pantai dari tempat wisata Patung Penyu, Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB

Setelah dari tempat wisata Patung Penyu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pelabuhan Roro Bintan untuk kembali ke Batam. Sebelum kami sampai di pelabuhan, kami mampir dulu ke tempat jual otak-otak sebagai oleh-oleh dari Bintan. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pelabuhan Roro, kami sampai di pelabuhan sekitar jam 16.45 WIB.

Sesampainya di pelabuhan, hujan masih turun sangat lebat di sana. Setelah menggali informasi dari pelabuhan, tour guide yang membawa kami mengabarkan bahwa kapal yang akan berangkat jam 17.00 WIB sudah penuh dan belum boleh berangkat karena hujan lebat ditambah juga dengan ombak yang tidak bersahabat. Begitu juga dengan kapal selanjutnya, yaitu jam 18.00 WIB yang seharusnya sudah sampai di pelabuhan Bintan, masih tertahan di Batam karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Landscape di Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB

Setelah berdiskusi dengan tour guide dan peserta lainnya, akhirnya kami sepakat untuk menginap semalam di Bintan, karena dari peihak pelabuhan juga tidak bisa memastikan apakah kapal akan berangkat atau tidak. Lagi-lagi, traveling tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita. Untuk sampai pada tujuan akhir, mungkin kita harus menunggu, tertunda pada suatu situasi tertentu. Suatu situasi yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita, tetapi harus kita lakoni bagaimana pun kondisinya.

Malam itu, saya menghabiskan waktu di dalam kamar Wisma Pesona, Bintan, sambil makan otak-otak yang sudah saya beli. Esok paginya, kami dijemput di hotel jam 08.00 WIB dan akhirnya kami pulang ke Batam dengan kondisi cuaca yang sudah lebih baik.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, diambil dengan Kamera Depan Iphone 6+ dan Kamera Mirrorless Canon EOS M3.

Salam Traveling.

MyMagnificentJourney,
Oka Budiman

Keindahan Alam Selalu Mampu Menghadirkan Kekaguman – SG Trip Day 2 (13 November 2016)

Gardens by the Bay, Singapore, 13 November 2016, 17.00 SG Time
Hari ini adalah hari terakhir liburan panjang saya. Pagi hari, saya bangun tidur jam 10.00 waktu SG. Saya langsung bersiap-siap untuk check-out dari hotel, mandi, dan berangkat ke Gereja Katolik St. Joseph di Bras Basah untuk merayakan Ekaristi pada jam 12.00 waktu SG. Jam 11.00 waktu SG saya berangkat, seperti biasa, dengan transportasi umum andalan saya, yaitu MRT. Misa selesai sekitar jam 13.15 waktu SG.

Setelah misa, saya melanjutkan perjalanan saya menuju Bugis. Sesampainya di Bugis, saya langsung menuju Bugis Street dimana saya membeli siomay Singapore. Ntah mengapa saya sangat suka siomay Singapore ini sehingga jika saya ke Singapore, saya pasti menyempatkan diri untuk membelinya. Setelah melalui perjalanan yang ruwet dan ramai di Bugis Street, saya kembali ke Bugis Junction untuk berkeliling dan akhirnya makan siang di food court di sana.

Makan Siang di Food Court Bugis Junction, Singapore, 13 November 2016, 14.00 SG Time

Saya kurang paham apa yang membuat makanan ini begitu mahalnya. Disajikan dengan nasi hainam, makanan ini dijual dengan harga S$ 13.50 atau kalo dirupiahkan berkisar Rp 130.000. Dari segi rasa, tidak terlalu istimewa, lebih istimewa lagi nasi hainam di Batam. 😂😂😂

Tetapi, itu sudah terjadi dan biarlah saya jadikan pelajaran supaya tidak terulang lagi dikemudian hari. Setelah makan, karena waktu sudah hampir sore, saya kembali berkeliling Bugis Junction sambil berpikir hendak kemana lagi, karena kapal yang akan membawa saya ke Batam baru akan berangkat pada jam 20.45 waktu SG.

Setelah menghitung-hitung waktu dan mempertimbangkan hal-hal lainnya, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saya menuju Gardens by the Bay yang sedang naik daun itu. Saya belum pernah ke sini sebelumnya, karena tempat wisata ini memang terbilang baru. Untuk mempersingkat waktu, saya langsung beranjak menuju stasium MRT Marina Bay.

Marina Bay Sands, 13 November 2016, 15.00 SG Time

Sesampainya di sana, saya sempat nyasar dan tidak langsung sampai di Gardens by the Bay. Saya sempat berkeliling, mengikuti petunjuk arah menuju Gardens by the Bay, namun karena daerah itu masih amat asing bagi saya, saya benar-benar tidak tau di mana letak persis dari Gardens by the Bay. Saya sempat naik lift dan sampai pada sebuah tempat seperti rooftoop, dan dari sana kita bisa melihat pemandangan daerah Marina Bay. Menyadari saya tidak berada di tempat yang benar, saya turun kembali dan mencoba untuk mencari lagi di mana Gardens by the Bay.

Art Science Museum, 13 November 2016, 15.00 SG Time

Setelah berkeliling mencari, akhirnya saya sampai juga di Gardens by the Bay. Pada dasarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan ketika berada di Gardens by the Bay. Gardens by the Bay bagi saya adalah sebuah taman raksasa yang dibangun, dipelihara dan dirawat sedemikian indahnya dengan sistem pengairan yang amat sangat baik sehingga menciptakan sebuah sirkulasi pengairan yang saling membutuhkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.

Karena pada hari itu adalah hari minggu, maka di sana sangat banyak pengunjung, terutama turis. Di sana juga ada kereta yang bisa kita gunakan untuk berkeliling Gardens by the Bay. Saya mengabadikan beberapa foto di sana, beginilah penampakannya.

Salah satu jembatan di Gardens by the Bay, 13 November 2016, 15.30 SG Time
Danau di Gardens by the Bay, 13 November 2016, 15.30 SG Time
Supertree Groove dari kejauhan, 13 November 2016, 15.30 SG Time
Kemudian, saya berjalan-jalan mengelilingi kompleks Taman Raksasa Gardens by the Bay. Tentu saja saya tidak menjelajahi semuanya, karena kondisi kaki saya yang sudah lelah dan tidak memungkinkan saya untuk berjalan terlalu lama dan jauh. Namun, sejauh yang saya lihat, ada Chinese Garden, Indian Garden, Malay Garden, dll. Kemudian, saya juga menemukan Cloud Forest, yaitu semacam hutan yang ada di dalam ruangan tertutup. Saya tidak masuk ke dalam, karena kita harus membayar untuk masuk ke sana.

Setelah itu, saya juga menemukan Supertree Grooves, yaitu sebuah pohon buatan yang terbuat dari bahan metal, dimana antar pohon buatan itu dihubungkan oleh jembatan-jembatan sehingga kita bisa berkeliling dari jembatan dan bisa melihat pemandangan Gardens by the Bay dan mungkin sebagian negara Singapore. Namun, kita juga harus membayar tiket masuk apabila ingin naik ke jembatan di Supertree Groove ini.

Supertree Groove, Singapore, 13 November 2016, 17.00 SG Time

Setelah itu, karena waktu sudah menunjukkan jam 17.00 waktu Singapore, saya beranjak untuk kembali ke stasiun MRT Marina Bay untuk kembali. Seperti saat masuk ke tempat ini, pulangnya pun saya sempat nyasar dan mencari-cari di mana letak persis stasiun MRT Marina Bay. Setelah keluar-masuk gedung dan mengikuti petunjuk arah yang sudah disediakan, akhirnya saya menemukan stasiun MRT Marina Bay.

Dari stasiun MRT Marina Bay, saya menuju stasiun MRT Aljunied, saya hendak ke hotel tempat saya menginap, dimana saya masih menitipkan barang bawaan saya. Sesampainya di hotel, saya berjalan dengan tas bawaan yang sangat banyak dan berat menuju stasiun MRT Aljunied untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Harbour Front. Saat itu, dalam kelelahan, kaki juga sudah sakit, membawa barang yang berat dan banyak sungguh menyiksa saya. Itulah pengalaman pertama saya berjalan-jalan sendirian atau bahasa kerennya menjadi Solo Traveler. 😁😁😁

Memang lelah, namun pengalaman seperti ini tentu saja berguna bagi saya untuk solo trip saya selanjutnya. Melelahkan, tapi menyenangkan. Melelahkan, tapi mendapat pengalaman baru. 😊😊😊

Saya sampai di pelabuhan Harbour Front sekitar jam 19.30 SG Time. Sesampainya di sana saya tidak banyak melakukan hal, saya hanya duduk di ruang tunggu sambil menunggu counter check-in buka. Setelah itu, saya sudah dalam perjalanan pulang menuju Batam. Selesai sudah perjalanan panjang saya selama 9 hari, dari 5-13 November 2016. Walaupun lelah, tapi menyenangkan. 😁😁😁

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Belakang Iphone 6+.

Salam Traveling.

MyMagnificentJourney,
Oka Budiman

Menikmati Indahnya Malam di Merlion Park – SG Trip Day 1, Part 2 (12 November 2016)

Helix Bridge, Art Science Museum, and Marina Bay Sands in ONE FRAME, 12 November 2016, 20.00 SG Time

Sesampainya di hotel, saya makan makanan yang saya beli dalam perjalanan tadi, beristirahat sebentar lalu mandi. Waktu menunjukkan jam 19.30 waktu SG. Saya berjalan menuju stasiun MRT Lavender menuju stasiun MRT Esplanade. Sesampainya di sana, saya berjalan menyusuri lorong untuk keluar dari Gedung Esplanade. Rencana awal saya sebenarnya adalah mengambil gambar di beberapa titik di dekat patung Merlion dan Teluk Marina tetapi rasa ingin tahu saya merubah segalanya.

Jika kita keluar dari Esplanade dan jalan ke sebelah kanan, kita akan sampai pada patung Merlion yang fenomenal itu. Karena saya sudah pernah ke sana dan saya melihat banyak orang berjalan ke arah kiri, maka rasa penasaran saya tentang ada apa di sebelah kiri, membuat saya mengikuti jejak orang-orang. Saya memulai perjalanan saya sekitar jam 20.00 waktu SG.

Gedung pencakar langit di sekitar Teluk Marina, Singapore, 12 November 2016, 20.00 SG Time

Sekitar 300 meter dari Esplanade, kita akan melihat sebuah jembatan layang yang dimiliki oleh Singapore dan juga jalan raya di sana. Dari trotoar jalan raya tersebut, kita bisa melihat secara jelas Singapore Flyer yang luar biasa itu, dalam hal ini, maksud saya adalah lingkaran penuh. Selain itu, kita juga bisa mengambil gambar dari sudut pandang berbeda dari Marina Bay Sands (setidaknya berbeda dari yang biasanya diambil oleh orang kebanyakan). Berikut ini foto yang saya ambil di daerah sana.

Singapore Flyer, Singapore, 12 November 2016, 20.15 SG Time
Marina Bay Sands, Singapore, 12 November 2016, 20.15 SG Time

Setelah mengabadikan beberapa gambar di sana, saya kembali ke jalan sebelumnya untuk melanjutkan perjalanan saya mengelilingi Teluk Marina. Selanjutnya kita akan dipertemukan dengan Helix Bridge yang mana ini adalah kali pertama saya ke sini. Di sepanjang jembatan ini, kita akan menemukan beberapa anjungan yang memungkinkan kita untuk mengambil gambar beberapa bangunan dan gedung di daerah sana dengan berbagai macam sudut yang kita sukai. Tetapi sebelum masuk ke sana, saya membeli es krim wafer yang sangat terkenal di Singapore itu.

Es krim wafer di Singapore, 12 November 2016, 20.30 SG Time
Helix Bridge & Marina Bay Sands, Singapore, 12 November 2016, 20.30 SG Time

Menyusuri Helix Bridge, kita akan menemukan banyak orang yang sedang berjalan, mengambil gambar, anak kecil yang sedang lari ke sana ke mari dan yang paling unik adalah sepasang orang yang bermain alat musik tiup yang mana saya tidak tau mereka orang dari negara mana dan alat musik apa yang mereka mainkan. Berikut ini adalah penampakannya.

Sebuah karya anak seni, Singapore, 12 November 2016, 20.45 SG Time
Helix Bridge, Singapore, 12 November 2016, 20.45 SG Time
Dari Helix Bridge saya menuju anjungan-anjungan yang sudah disediakan untuk mengambil gambar Art Science Museum dari jarak yang lebih dekat. Berikut ini hasilnya.

Art Science Museum dari Anjungan Helix Bridge, Singapore, 12 November 2016, 20.45 SG Time

Setelah selesai menyusuri Helix Bridge, saya sampai di jalan dimana gedung pencakar langit yang tadi saya foto dari kejauhan berada. Di sini ada banyak cafe dan karena itu adalah malam minggu sehingga cafe-cafe tersebut cukup ramai. Di jalan berkeramik yang saya susuri juga banyak orang yang berjalan, ada juga yang bersepeda dan berlari di sana. Ada beberapa foto yang saya ambil dari sana.

Gedung di Teluk Marina, Singapore, 13 November 2016, 20.45 SG Time
Gedung pencakar langit lainnya, Singapore, 12 November 2016, 20.45 SG Time
Landscape di Teluk Marina, Singapore, 12 November 2016, 20.45 SG Time

Setelah menyusuri jalan di bawah gedung-gedung pencakar langit di Singapore, saya sampai di tepi Teluk Marina yang menyajikan pertunjukan kabut yang luar biasa. Pertunjukan ini diadakan tepat di sebuah mall bernama The Shoppes yang terhubung langsung ke Marina Bay Sands. Begini penampakan pertunjukan yang menakjubkan itu.

Sebuah pertunjukan kabut yang dipadukan dengan lampu, Singapore, 12 November 2016, 21.00 SG Time

Pertunjukan kabut ini ditonton oleh banyak orang sehingga saya agak kesulitan untuk mengabadikan gambarnya. Setelah saya sampai ke Batam, beberapa teman juga mengatakan bahwa jika ingin menonton pertunjukan itu dari dekat, maka kita harus membayar sejumlah uang sebagai tiket masuk. Usai melihat pertunjukan itu saya melanjutkan perjalanan saya. Kali ini, saya sampai pada sebuah tempat yang memungkinkan orang untuk bersantai.

Sudut lainnya di Marina Bay Sands, Singapore, 12 November 2016, 21.00 SG Time

Setelah menyusuri tempat tersebut, saya sudah semakin dekat dengan Merlion Park yang juga merupakan awal dari perjalanan panjang saya malam itu. Sesampainya di Merlion Park, saya mengambil beberapa foto di sana, kemudian berjalan sedikit lagi untuk kembali masuk ke gedung Esplanade, menuju Stasiun MRT Esplanade untuk mengakhiri perjalanan panjang dan melelahkan saya malam itu.

Saya menyelesaikan semua perjalanan itu dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Ada sebuah miniatur rumah yang menarik perhatian saya sejak awal memasuki gedung Esplanade dan saat pulang saya abadikan. Sebuah miniatur rumah yang sering saya jumpai di Indonesia. Sebuah kekaguman lainnya yang bisa saya temui di negara tetangga.

Patung Merlion, Singapore, 12 November 2016, 21.30 SG Time

Miniatur Rumah di Esplanade, Singapore, 12 November 2016, 21.30 SG Time

Sesampainya di hotel, saya beristirahat sebentar, kemudian packing untuk persiapan kembali ke Batam esok hari dan kemudian saya beristirahat.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Belakang Iphone 6+.

Bersyukurlah dan Berikan dari Kekuranganmu – SG Trip Day 1, Part 1 (12 November 2016)

Pemandangan langit & kota Jogjakarta dari rooftop Hotel Pandanaran, 12 November 2016, 05.30 WIB

Hari ke-8 saya di Jogjakarta yang juga merupakan hari terakhir saya menginjakkan kaki di kota kenangan ini, kota yang menghadirkan berjuta keindahan alam, kota yang sudah aku rindukan bahkan hanya beberapa hari setelah aku meninggalkan kota ini. Ya, banyak kenangan dan lebih banyak lagi kerinduan. Suatu saat nanti ‘ku kan kembali berjumpa denganmu, berharap menemukan jutaan pesona lainnya yang lagi-lagi mampu menghadirkan kekaguman dalam diri dan hati.

Jam 05.00 WIB saya sudah bangun dari tidur lelap saya untuk bersiap-siap karena pesawat Air Asia yang akan membawa saya melanjutkan perjalanan saya ke Singapore akan berangkat jam 07.25 WIB. Jam 05.45 WIB, taksi yang sudah saya pesan sebelumnya menjemput saya, perjalanan dari hotel menuju Bandara Internasional Adisucipto ditempuh sekitar 30 menit. Sesampainya di bandara, saya melakukan check-in dan langsung menunggu di ruang tunggu. Syukurlah pesawat yang akan menerbangkan saya akan berangkat sesuai jadwal.

Continue reading “Bersyukurlah dan Berikan dari Kekuranganmu – SG Trip Day 1, Part 1 (12 November 2016)”

Arsitektur Gereja Bukanlah Penentu Iman – Jogja Trip Day 7 Part 2 (11 November 2016)

Gereja Katolik Salib Suci, Gunung Sempu, 11 November 2016, 12.00 WIB
Sebelum meluncur menuju Gereja Katolik Salib Suci di Gunung Sempu, yang mana dapat ditempuh dari Gua Maria Sendangsono sekitar 1 jam perjalanan, beberapa meter dari Gua Maria Sendangsono, kita akan sampai di sebuah lokasi yang didedikasikan untuk Kebun Durian di daerah tersebut bernama Durian Menorehkuning. Durian ini berbuah sekitar bulan April-Mei setiap tahunnya, warna buahnya kuning dan rasanya manis, begitulah dikisahkan oleh supir yang membawa saya ke sini.

Continue reading “Arsitektur Gereja Bukanlah Penentu Iman – Jogja Trip Day 7 Part 2 (11 November 2016)”

Menimba Air Kehidupan dari Sang Bunda Penebus – Jogja Trip Day 7, Part 1 (11 November 2016)

Berpose di depan Gua Maria Jatiningsih, 11 November 2016, 09.30 WIB

Setelah 2 hari menikmati hari-hari bebas di dalam kota Jogjakarta, hari ini saya kembali melakukan perjalanan ke pinggiran kota Jogjakarta. Perjalanan kali ini, saya tidak lagi ditemani oleh teman saya, tetapi saya lakukan sendiri. Saya masih menggunakan jasa sewa mobil dari Nagan Tour seharga Rp 450.000 untuk 12 jam. Harga tersebut sudah termasuk supir dan BBM selama perjalanan.

Saya memulai perjalanan saya jam 08.00 WIB. Saat itu saya langsung meluncur menuju Gua Maria Jatiningsih di Sleman, Jogjakarta. Kurang lebih 30-45 menit perjalanan dari hotel menuju lokasi tersebut. Sesampainya di sana, saya duduk di pendopo yang ada di depan Gua Maria dan mendaraskan Doa Rosario. Kurang lebih 30 menit saya mendaraskan Doa Rosario di sana, saya keliling melihat-lihat ada apa saja di dalam kompleks Gua Maria Jatiningsih. Selain ada Gua Maria, ada pula kapel, patung Salib Yesus, dan juga patung-patung lainnya.

Continue reading “Menimba Air Kehidupan dari Sang Bunda Penebus – Jogja Trip Day 7, Part 1 (11 November 2016)”