Lagoi: The Hidden Treasure in Kepri – Bintan Trip (25 Desember 2016)

Selfie di Gurun Pasir Bintan, 25 Desember 2016, 09.00 WIB
Minggu, 25 Desember 2016, saya kembali mencoba pengalaman baru sebagai Solo Traveler. Kali ini, saya memilih Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau sebagai tempat yang saya kunjungi. Saya berkunjung ke Bintan dengan menggunakan jasa My Trip Indonesia seharga Rp 260.000 untuk satu hari perjalanan.

Pagi-pagi jam 06.30 WIB saya sudah sampai di Pelabuhan barang ASDP Punggur, Batam. Setelah registrasi, saya naik kapal Roro yang akan membawa saya ke Bintan. Sepanjang perjalanan saya dari Batam ke Bintan yang ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam, saya hanya berdiri di atas kapal sambil mencari-cari tempat/spot bagus untuk hunting foto. Akhirnya saya dapat tempat yang bagus, yaitu di dekat toilet kapal, mungkin ini bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan apabila ingin traveling ke Bintan dengan menggunakan Kapal Roro.

Kapal ferry melintas di perairan kota Batam, 25 Desember 2016, 07.30 WIB
Landscape di perairan Kota Batam, 25 Desember 2016, 07.30 WIB

Sesampainya di Bintan, rombongan kami sudah ditunggu oleh tim dari My Trip Indonesia untuk akhirnya dibawa berkeliling Bintan. Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Gurun Pasir Bintan. Gurun Pasir Bintan pada dasarnya adalah sebuah tempat pertambangan bauksit yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Awalnya memang tempat ini tidak dikomersialkan, namun seiring perjalanan waktu, dimana banyak orang berkunjung, maka akhirnya ada orang-orang yang mencari peruntungan di sini.

Landscape Gurun Pasir Bintan, 25 Desember 2016, 09.00 WIB

Setelah sekitar 30 menit di Gurun Pasir Bintan, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan kami. Kali ini kami menuju kawasab wisata Lagoi di Bintan. Kawasan wisata Lagoi adalah sebuah kompleks wisata yang dikelola oleh swasta, dimana di dalam kompleks itu, kita akan menemukan sangat banyak sekali pantai dan hampir semua pantai di daerah itu masih sangat bersih. Kali ini, tentu saja saya tidak berkunjung ke semua pantai yang ada di sana. Saya hanya berkunjung ke salah satunya saja, pantai yang bernama Lagoi Bay.

Di sana saya tidak bermain air, tetapi hanya berfoto-foto saja. And you know what! Di sana ada taman bunga yang bisa saya manfaatkan untuk hunting foto. Berikut ini foto-foto landscape di Lagoi Bay, sedangkan untuk yang lebih lengkap, akan saya share pada kategori Photo Hunting.

Air mancur di Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Dedaunan dekat pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Landscape Pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB
Landscape Pantai Lagoi Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 11.00 WIB

Setelah sekitar 30 menit di Lagoi Bay, kami melanjutkan perjalanan kami menuju sebuah pujasera yang masih berada dalam kompleks wisata Lagoi, tepatnya berseberangan dengan tempat wisata Treasure Bay. Di sana kami makan nasi campur, dengan lauk ayam kari, telur sambal, sayur, dan kerupuk. Makan di sini sudah disediakan untuk sepuasnya, namun tentu saja saya makan hanya sepiring saja. Dari segi rasa, makanannya enak dan sangat homie. Cocok dengan lidah saya. 😊😊😊

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Treasure Bay. Kami sampai di sana sekitar pukul 13.00 WIB. Pada saat kami sampai, cuaca sudah tidak bersahabat. Saat itu, cuaca gerimis dan berangsur-angsur agak melebat. Setelah sekitar 10 menit menunggu hujan reda, akhirnya saya bisa berjalan mengelilingi kolam renang air asin raksasa dan terbesar se-Asia Tenggara itu.

Treasure Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 13.30 WIB

Sialnya, setelah berjalan sekitar 15 menit, hujan kembali turun dengan begitu lebatnya. Saya tidak bisa kembali, karena hujan turun sangat lebat sehingga saya harus berteduh sejenak di bawah payung yang ada di sekeliling kolam renang. Setelah berteduh sekitar 15 menit, saya memutuskan untuk kembali ke lobby Treasure Bay karena hujan tidak juga mereda.

Sesampainya di area lobby, saya langsung mencari kamar ganti untuk berganti baju. Setelah itu, saya hanya berjalan dan duduk, menunggu hujan kembali reda. Menit demi menit berlalu, hujan tidak juga reda. Sekitar jam 15.00 WIB akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami dengan meninggalkan Treasure Bay, karena kami tidak dapat melakukan apa-apa di sana.

Treasure Bay, Bintan, 25 Desember 2016, 13.30 WIB

Satu hal yang saya dapatkan dalam kunjungan saya ke Treasure Bay. Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya meyakini bahwa traveling bukan hanya melulu tentang menghamburkan uang, tetapi lebih dari itu, traveling adalah sarana untuk menambah wawasan. Hari ini, saya mendapat suatu pelajaran baru, ialah traveling tidak ubahnya seperti kehidupan kita. Dalam hal ini, terkadang hidup belum tentu selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi, apapun yang terjadi, life must go on, kita tetap harus menjalaninya, meskipun pahit dan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dari Lagoi Bay, kami melanjutkan perjalanan menuju Patung Penyu di dekat Lagoi. Satu hal yang amat disayangkan di sini, tidak berbeda jauh saat saya berkunjung ke Candi Borobudur. Patung Penyu ini merupakan sebuah tempat yang disakralkan oleh umat Buddha di sana. Sudah jelas tertulis, bahwa patung tersebut tidak boleh dipanjat, tetapi toh masih banyak saya lihat yang memanjat patung tersebut. Sebuah fenomena yang sangat disesalkan, terjadi dimana-mana. Rasa kepedulian dan toleransi memang harus lebih banyak ditanamkan dalam diri masyarakat di Indonesia.

Kepala Patung Penyu, Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB
Landscape pantai dari tempat wisata Patung Penyu, Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB

Setelah dari tempat wisata Patung Penyu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pelabuhan Roro Bintan untuk kembali ke Batam. Sebelum kami sampai di pelabuhan, kami mampir dulu ke tempat jual otak-otak sebagai oleh-oleh dari Bintan. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pelabuhan Roro, kami sampai di pelabuhan sekitar jam 16.45 WIB.

Sesampainya di pelabuhan, hujan masih turun sangat lebat di sana. Setelah menggali informasi dari pelabuhan, tour guide yang membawa kami mengabarkan bahwa kapal yang akan berangkat jam 17.00 WIB sudah penuh dan belum boleh berangkat karena hujan lebat ditambah juga dengan ombak yang tidak bersahabat. Begitu juga dengan kapal selanjutnya, yaitu jam 18.00 WIB yang seharusnya sudah sampai di pelabuhan Bintan, masih tertahan di Batam karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Landscape di Bintan, 25 Desember 2016, 15.30 WIB

Setelah berdiskusi dengan tour guide dan peserta lainnya, akhirnya kami sepakat untuk menginap semalam di Bintan, karena dari peihak pelabuhan juga tidak bisa memastikan apakah kapal akan berangkat atau tidak. Lagi-lagi, traveling tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita. Untuk sampai pada tujuan akhir, mungkin kita harus menunggu, tertunda pada suatu situasi tertentu. Suatu situasi yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita, tetapi harus kita lakoni bagaimana pun kondisinya.

Malam itu, saya menghabiskan waktu di dalam kamar Wisma Pesona, Bintan, sambil makan otak-otak yang sudah saya beli. Esok paginya, kami dijemput di hotel jam 08.00 WIB dan akhirnya kami pulang ke Batam dengan kondisi cuaca yang sudah lebih baik.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, diambil dengan Kamera Depan Iphone 6+ dan Kamera Mirrorless Canon EOS M3.

Salam Traveling.

MyMagnificentJourney,
Oka Budiman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s